Studi kasus resiko perfusi serebral tidak efektif pada pasien chephalgia post trauma nasal dan epistaxix bilateral ec fraktur os nasal
DOI: https://doi.org/10.56922/quilt.v5i4.1026
Asuhan Keperawatan Cephalalgia Perfusi Serebral Tidak Efektif Trauma Kepala
Abstract
Background: Trauma to the nasal area often causes various complications, including nasal bone fractures, bilateral epistaxis, and prolonged cephalalgia. The risk of ineffective cerebral perfusion generally occurs in cases of head trauma caused by traffic accidents or non-traffic accidents.
Purpose: To determine nursing management options for addressing the risk of ineffective cerebral perfusion in a patient with post-traumatic nasal cephalalgia and bilateral epistaxis due to nasal bone fracture.
Method: This was an observational case study using a cross-sectional approach focusing on emergency nursing care for a 33-year-old patient in the Emergency Department with complaints of headache, nausea, and nosebleeds following a fall.
Results: The patient experienced cephalalgia, bilateral epistaxis, and pain due to the nasal bone fracture, confirmed by a 3D Non-Contrast Head CT scan. The nursing diagnosis was risk of ineffective cerebral perfusion, with a 1x2-hour intervention. The nursing intervention provided was intracranial pressure management focused on monitoring neurological status, pain control, 30° head elevation, and prevention of further complications.
Conclusion: The nursing interventions provided to the patient to reduce signs of intracranial pressure improved the patient's condition, reducing pain and bleeding after therapy.
Keywords: Cephalalgia; Head Trauma; Ineffective Cerebral Perfusion; Nursing Care.
Pendahuluan: Trauma pada area hidung sering kali menyebabkan berbagai komplikasi termasuk fraktur os nasal, epistaksis bilateral, serta chephalalgia yang berkepanjangan. Risiko perfusi serebral tidak efektif umumnya terjadi pada kasus trauma area kepala yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas maupun bukan kecelakaan lalu lintas.
Tujuan: untuk mengetahui penatalaksanaan keperawatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah resiko perfusi serebral tidak efektif pada pasien dengan cephalalgia pasca-trauma nasal dan epistaksis bilateral akibat fraktur os nasal.
Metode: Studi kasus observasional dengan pendekatan cross-sectional yang berfokus pada asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien berusia 33 tahun di Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan nyeri kepala, mual, dan mimisan karena post terjatuh.
Hasil: Pasien mengalami cephalalgia, epistaksis bilateral, serta nyeri akibat fraktur os nasal yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan MSCT Non-Kontras Head 3D. Diagnosa keperawatan yang diangkat yaitu risiko perfusi serebral tidak efektif dengan pemberian intervensi 1x2 jam. Intervensi keperawatan yang diberikan yaitu manajemen peningkatan intrakranial yang difokuskan pada pemantauan status neurologis, pengendalian nyeri, elevasi kepala (Head Up) 30o, serta pencegahan komplikasi lebih lanjut.
Simpulan: Penerapan intervensi keperawatan yang dilakukan kepada pasien untuk menurunkan tanda-tanda peningkatan intrakranial berpengaruh pada perbaikan kondisi pasien, penurunan skala nyeri dan perdarahan pasien membaik setelah terapi.
Kata Kunci: Asuhan Keperawatan; Cephalalgia; Perfusi Serebral Tidak Efektif; Trauma Kepala.
Downloads
References
Anggraini, R., Pratama, F., & Suryanto, B. (2023). Hubungan Fraktur Os Nasal dengan Nyeri Kepala Tipe Sinusitis: Studi Observasional di RSUD X. Jurnal Kedokteran Indonesia, 12(1), 45-52.
Aulia, S., & Hermanto, D. (2023). Penatalaksanaan Fraktur Os Nasal: Indikasi dan Teknik Operatif. Journal of Otolaryngology, 8(2), 99-107.
Awaloei, Y. M., Prastowo, N. A., & Regina, R. (2021). The correlation between skin type and acne scar severity in young adults. JKKI: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, 52-57.
Burnol, L., Payen, J. F., Francony, G., Skaare, K., Manet, R., Morel, J., & Gergele, L. (2021). Impact of head-of-bed posture on brain oxygenation in patients with acute brain injury: a prospective cohort study. Neurocritical Care, 35(3), 662-668.
Gunawan, L., & Lestari, T. (2022). Komplikasi Jangka Panjang Pasca Fraktur Os Nasal dan Strategi Rehabilitasi. Jurnal Ilmu Kedokteran, 9(4), 211-219.
Hidayat, T., & Syafitri, W. (2021). Nyeri Kepala Pasca Trauma Nasal: Pendekatan Diagnostik dan Terapi. Jurnal Neurologi Indonesia, 10(2), 75-83.
Jabir, A. (2022). Hubungan Gambaran CT Scan Kepala dengan Derajat Cedera Otak pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2021= Correlation Between Head CT Scan Imaging with The Degree of Traumatic Brain Injury in Head Injury Patients at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar 2021 (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Katorolac. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545172/
Kinasih, P. A., Chayati, N., & Agriyanto, D. H. (2020). Intervensi Keperawatan Pada Pasien dengan Masalah Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial Post Craniotomy Astrid. British Medical Journal. 2(5474), 1333-1336.
Kurniawan, R., & Setiawan, B. (2021). Pendekatan Multidisiplin dalam Manajemen Trauma Nasal. Medical Journal of Indonesia, 11(1), 35-44.
Mulyadi, M. N., & Mubarak, M. Z. S. (2024). Counseling and examination related to the prevention of hypertension and diabetes in the elderly. Abdimas Polsaka, 3(2), 91-99.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Polinder, S., (2022). Trauma Kepala Ringan dan Risiko Jangka Panjang: Evaluasi Klinis. Journal of Neurosurgery, 18(4), 301-312.
Prasetyo, A., & Wijayanti, D. (2023). Fraktur Wajah di Indonesia: Epidemiologi dan Manajemen Klinis. Journal of Facial Trauma, 9(1), 54-61.
Putri, A., & Handoko, T. (2022). Fraktur Os Nasal dan Gangguan Sensorik: Studi Klinis. Indonesian Journal of ENT, 13(2), 88-95.
Purnamasari, E., & Maystasari, R. (2021). Trauma Kepala Ringan: Manifestasi Klinis dan Tata Laksana. Jurnal Kedokteran Darurat, 7(1), 40-51.
Rahmawati, N., & Yulianto, A. (2024). Evaluasi Epistaksis pada Fraktur Os Nasal: Manajemen dan Prognosis. Journal of Emergency Medicine, 10(2), 67-78.
Ramadhani, D. (2023). Rehabilitasi Pasien dengan Fraktur Os Nasal: Pendekatan Terapi. Journal of Rehabilitation Medicine, 8(1), 122-134.
Santoso, W. (2020). Terapi Farmakologis dan Bedah pada Pasien dengan Fraktur Os Nasal. Journal of Surgery, 14(2), 211-220.
Sari, T. (2022). Cedera Nasal dan Risiko Peradangan: Analisis Klinis. Indonesian Journal of Otolaryngology, 11(3), 67-76.
Sastrawan, I. G. (2023). Manifestasi Klinis Pasien dengan Trauma Nasal: Studi Retrospektif. Journal of Trauma Research, 19(2), 156-169.
Siswanti, H., Sukarmin, S., & Maghfiroh, L. (2021). Hubungan Posisi Elevasi Dengan Tekanan Intrakranial pada Pasien Cedera Kepala Sedang di RSUD RAA Soewondo Pati. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan. 12(1), 28-33.
Trisila, T., Mukin, F. A., & Dikson, M. (2022). Pengaruh Pemberian Posisi Head Up 30 Derajat Terhadap Saturasi Oksigen Pada Pasien stroke Di IGD RSUD Dr. T.C Hillers Mumere Kabupaten Sikka. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan. 8(16), 664-674.
Wahyuni, S. (2024). Evaluasi Fungsi Pernapasan Pasien dengan Fraktur Os Nasal. Journal of Respiratory Medicine, 12(2), 98-110.
Wariyanto, A., & Hulakala, A. P. (2023). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Dengan Trauma Kepala Di Igd Rs. Bhayangkara Makassar (Doctoral Dissertation, Stik Stella Maris).
Wibowo, S. (2021). Epistaksis Bilateral Akibat Trauma Nasal: Tinjauan Klinis dan Manajemen. Journal of Emergency Medicine, 6(2), 45-53.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Listia Sundari, Efi Fibriyanti

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







