Peningkatan pengetahuan dan sikap pasangan pranikah melalui edukasi PMOS
DOI: https://doi.org/10.56922/phc.v6i5.3746
Edukasi kesehatan Pasangan pranikah Pengetahuan PMOS Sikap
Abstract
Background: Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) is a serious multi system hormonal disorder affecting women's reproductive health; however, public awareness particularly among pre-marital couples remains low.
Purpose: To increase knowledge regarding reproductive health and PMOS among pre-marital couples.
Method: This educational activity on PMOS for pre-marital couples was conducted on December 13 and 27, 2023, at the Office of Religious Affairs (KUA) in Banyuwangi City District, Banyuwangi Regency, East Java. The activity aimed to provide an understanding of PMOS to couples attending pre-marital classes at the KUA prior to their marriage solemnization. Twenty women from pre-marital couples participated as respondents. Knowledge levels were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Evaluation involved analyzing the aggregated questionnaire results and descriptively reporting the respondents' knowledge gains regarding PMOS.
Results: All participants (100%) attended the activity, with an active questioning rate of 25%. Following the educational session, respondents demonstrated increased knowledge in the following areas: the definition of PMOS (25% increase), the causes of PMOS (15% increase), and the long-term effects of PMOS (35% increase). Meanwhile, understanding regarding the partner's role in PMOS prevention was already at 100% prior to the educational activity.
Conclusion: Reproductive health education regarding polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) significantly influences the knowledge and attitudes of pre-marital couples. Targeted education effectively enhances awareness and understanding of PMOS, thereby contributing to the prevention of reproductive health complications within the community.
Suggestion: It is recommended that the Banyuwangi City Office of Religious Affairs (KUA) permanently integrate PMOS education into the pre-marital class curriculum and optimize the use of visual aids such as posters and leaflets in service areas through ongoing collaboration with the local Community Health Center Additionally, the Community Health Center is encouraged to facilitate early screening for the risk of this endocrine-metabolic disorder using simple questionnaires during the mandatory pre-marital health examinations for prospective couples.
Keywords: Attitudes; Health education; Knowledge; PMOS; Pre-marital couples
Pendahuluan: Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) merupakan gangguan hormonal multi sistem serius yang memengaruhi kesehatan reproduksi wanita, namun kesadaran masyarakat khususnya pasangan pranikah mengenai kondisi ini masih tergolong rendah.
Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi mengenai PMOS pada pasangan pranikah.
Metode: Kegiatan edukasi PMOS kepada pasangan pranikah ini dilaksanakan pada tanggal 13 dan 27 Desember 2023 di Kantor Urusan Agama atau KUA Banyuwangi Kota Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang PMOS kepada pasangan pranikah yang menjalani kelas pranikah di KUA sebelum pelaksanaan akad nikah. Melibatkan 20 perempuan pasangan pranikah menjadi responden. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan mengkaji hasil akumulasi kuesioner dan disampaikan secara deskriptif terkait pencapaian dan peningkatan pengetahuan responden tentang PMOS.
Hasil: Menunjukkan seluruh peserta (100%) hadir mengikuti kegiatan dengan tingkat keaktifan bertanya sebesar 25%. Terdapat peningkatan pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi mengenai pengertian PMOS sebesar 25%, penyebab PMOS sebesar 15%, dan efek jangka panjang PMOS sebesar 35%. Sementara itu, pemahaman mengenai peran pasangan dalam pencegahan PMOS sebelum kegiatan edukasi sudah mencapai 100%.
Simpulan: Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi tentang polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pasangan pranikah. Meningkatnya pengetahuan melalui edukasi yang terarah terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang PMOS, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pencegahan komplikasi kesehatan reproduksi di masyarakat.
Saran: Diharapkan kepada KUA Banyuwangi Kota untuk secara permanen mengintegrasikan edukasi PMOS ke dalam kurikulum kelas pranikah serta mengoptimalkan penggunaan media visual seperti poster dan leaflet di ruang pelayanan melalui sinergi berkelanjutan bersama Puskesmas setempat. Kepada pihak Puskesmas juga diharapkan dapat memfasilitasi screening dini risiko gangguan endokrin-metabolik ini melalui kuesioner sederhana saat pemeriksaan kesehatan prasyarat nikah calon pengantin.
Downloads
References
Amu, S. W. P. S., Zakaria, F., & Hiola, F. A. A. (2026). Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap calon pengantin tentang kesehatan reproduksi di Puskesmas Limboto. Bunda Edu-Midwifery Journal (BEMJ), 9(1), 265-271.
Asyima, A., & Ruqaiyah, R. (2026). Buku Ajar Ruang Lingkup Kesehatan Pada Perempuan.
Aulia, S. A. (2024). Edukasi kesehatan reproduksi melalui media lembar balik catin terhadap pengetahuan dan sikap calon pengantin di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok (Doctoral dissertation, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta).
Binkley, C. J., & Johnson, K. W. (2013). Application of the precede-proceed planning model in designing an oral health strategy. Journal of theory and practice of dental public health, 1(3), 14.
Franciska, S., Hestiantro, A., & Kartika, T. (2025). Ketidakseimbangan Th17 dan Treg Pada Pasien PCOS dengan resistensi insulin: Tinjauan literatur terhadap potensi suntikan terapi. Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya, 13(1).
Graef, A., & LeMieux, M. J. (2026). The interplay between PMOS and MASLD: pathophysiology and evidence-based nutritional interventions. Nutrients, 18(12), 1948.
Jones, C. L., Jensen, J. D., Scherr, C. L., Brown, N. R., Christy, K., & Weaver, J. (2015). The health belief model as an explanatory framework in communication research: exploring parallel, serial, and moderated mediation. Health communication, 30(6), 566-576.
Kismoyo, C. P., Saputri, E. N., Arfianti, D. P., Ramadhani, F. D., Adistira, Q. F., & Hapsari, N. A. (2025). Persiapan kehamilan sehat bagi calon pengantin di KUA Kapanewon Sewon. Jurnal Masyarakat Berdaya dan Bermitra (MATRA), 4(2), 76-90.
Maryati, S. (2024). Integrasi pendidikan seks dalam pembelajaran agama islam untuk mencegah perilaku seksual pra nikah. Mega Press Nusantara.
Neven, A. C., Forslund, M., Ranasinha, S., Sethi, P., Dhungana, R. R., Mousa, A., & Boyle, J. A. (2026). Prevalence of polycystic ovary syndrome: a global and regional systematic review and meta-analysis. Human Reproduction Update, dmaf030.
Nurasiah, A. (2016). Efektivitas pendidikan kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan dan sikap pasangan calon pengantin di Kantor Urusan Agama Kecamatan Kuningan Kabupaten Kuningan Tahun 2015. Jurnal Bidan, 2(1), 234055.
Qurniasih, N., Kristianingsih, A., & Kusumawardani, P. (2020). Pengaruh penyuluhan kesehatan reproduksi terhadap tingkat pengetahuan calon pengantin: the effect of reproductive health counseling on the knowledge of bride candidate. Jurnal Maternitas Aisyah (JAMAN AISYAH), 1(3), 182-188.
Salsabila, W. Q., Adyani, K., & Realita, F. (2024). Perbandingan pengetahuan dan sikap tentang PCOS pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4(1), 25-38.
Sari, M. P., & Anggraeni, E. (2023). Edukasi kesehatan reproduksi calon pengantin terhadap pengetahuan dan keikutsertaan premarital check up. Oksitosin: Jurnal Ilmiah Kebidanan, 10(2), 89-97.
Savina, A. P., Aprilina, H. D., Elsanti, D., & Aniarti, R. P. (2026). Booklet'mengenal pcos' mempengaruhi tingkat pengetahuan dan motivasi pemeriksaan dini polycystic ovarian syndrome (PCOS) pada wanita nulipara di Kelurahan Teluk: the booklet'understanding pcos'influences the level of knowledge and motivation for early screening of polycystic ovarian syndrome (PCOS) in nulliparous women in Teluk'Village. Indonesian Journal of Midwifery (IJM), 9(1), 88-96.
Teede, H. J., Khomami, M. B., Morman, R., Laven, J. S., Joham, A. E., Costello, M. F., & Piltonen, T. (2026). Polyendocrine metabolic ovarian syndrome, the new name for polycystic ovary syndrome: a multistep global consensus process. The Lancet, 407(10545), 2329-2339.
Wati, A. (2023). Pengaruh pendidikan kesehatan reprodukasi terhadap pengetahuan dan sikap calon pengantin di wilayah kerjapuskesmas sugi laende. Jurnal Pendidikan Keperawatan dan Kebidanan, 2(2), 1-5.
Wulan, S. (2025). Model Ketahanan Informasi Masyarakat Multikultural di Provinsi Lampung.
Zulaizeh, F. M., Pipitcahyani, T. I., Aini, E. N., & Sholikah, S. M. A. (2023). Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan calon pengantin mengenai kesehatan pranikah: the influence of health education on increasing the knowledge of prospective brides about pre-marital health. Journal of Midwifery Science and Women's Health, 4(1), 13-22.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 JOURNAL of Public Health Concerns

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.








