Pemanfaatan ramuan daun sirih (piper betle l.) sebagai pengobatan tradisional pada masyarakat suku bugis dan dampaknya terhadap perilaku pencarian layanan kesehatan

DOI: https://doi.org/10.56922/nmi.v3i1.3437

Authors

  • Muhammad Ridha Afdhal Universitas Negeri Makassar
  • Zulkifli Walangadi

Daun Sirih Suku Bugis Perilaku Pencarian Kesehatan Pabbura

Abstract

Background: Traditional medicine practices remain heavily prominent across rural Indonesia. Among the Bugis tribe in Kajuara District, Bone Regency, betel leaf (Piper betle L.) preparations are firmly relied upon for initial physical care, which sequentially alters modern healthcare utilization.

Purpose: To structurally identify the socio-cultural variables behind the use of betel leaf preparations among the Bugis community in Kajuara District and its multi-level consequences on health seeking behavior.

Method: A qualitative descriptive design was employed. Data were gathered through in-depth interviews with 9 key informants, field observations, and documentation in Kajuara District.

Results: Culturally, the Bugis community preserves betel leaf use owing to cosmological views of body-nature balance and ancestral pabbura practices. While providing basic antibacterial support, this reliance poses an individual risk of delaying crucial clinical care. Economically, families experience immediate cost efficiency, yet suffer from unstandardized dosage protocols. Structurally, it produces dualistic health behaviors that reduce formal primary health center attendance.

Conclusion: Socio-cultural dynamics dictate healthseeking paths in rural Bugis clusters, requiring structured integration between local knowledge systems and objective primary clinical guidelines.

 

Keywords: Betel Leaf; Bugis Tribe; Health Seeking Behavior; Pabbura.

 

Pendahuluan: Praktik pengobatan tradisional tetap mendominasi realitas kesehatan masyarakat di wilayah perdesaan Indonesia. Pada masyarakat Suku Bugis, ramuan daun sirih (Piper betle L.) secara konsisten diandalkan sebagai penanganan awal, yang secara sekuensial mengubah utilisasi pelayanan medis modern.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara struktural variabel sosial budaya di balik penggunaan ramuan daun sirih pada masyarakat Bugis di Kecamatan Kajuara serta konsekuensi multi-levelnya terhadap perilaku pencarian layanan kesehatan (health seeking behavior).

Metode: Desain kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 9 informan kunci, observasi lapangan, dan studi dokumentasi di Kecamatan Kajuara.

Hasil: Secara kultural, masyarakat Bugis melestarikan penggunaan daun sirih akibat pandangan kosmologis mengenai keseimbangan alam-tubuh dan praktik pabbura leluhur. Meskipun menyediakan dukungan antibakteri dasar, ketergantungan ini memicu risiko penundaan (delay) penanganan klinis krusial pada tingkat individu. Secara ekonomi, keluarga merasakan efisiensi biaya langsung, namun lemah dalam protokol standarisasi dosis. Secara struktural, fenomena ini melahirkan perilaku kesehatan dualistik yang mereduksi angka kunjungan Puskesmas formal.

Simpulan: Dinamika sosial budaya mendikte jalur pencarian kesehatan di klaster perdesaan Bugis, sehingga memerlukan integrasi terstruktur antara sistem pengetahuan lokal dan panduan klinis primer yang objektif.

 

Kata kunci: Daun Sirih; Suku Bugis; Perilaku Pencarian Kesehatan; Pabbura.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ahmad, M. I., & Afdhal, M. R. (2023). Evaluasi program inovasi peran TB Hunter menggunakan metode CIPP di Puskesmas Tamalate. Laporan Akhir Penelitian, Politeknik Kesehatan Megarezky, Makassar.

Arifin, Z. (2014). Sistem Pengobatan dan Penyembuhan Penyakit (Studi Sosiologi Kesehatan pada Masyarakat Sinjai Timur Sulawesi Selatan). Jurnal Ilmiah Administrasita', 4(1), 138-154.

Fitriani, N., & Yusuf, M. (2023). Analisis health seeking behavior pada masyarakat multi-etnis di wilayah pesisir. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 18(2), 89–98.

Hasriadi. (2024). Kajian etnofarmakologi ramuan obat tradisional Bugis pada penanganan nyeri. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5(3), 7245–7254.

Irianto, K. (2021). Sosiologi dan antropologi kesehatan masyarakat. Jakarta: Alfabeta.

Lestari, P. (2022). Efektivitas obat herbal komplementer terhadap penurunan morbiditas infeksi kulit di perdesaan. Jurnal Kedokteran Komunitas, 10(4), 310–318.

Mangesa, R., & Aloatuan, F. (2019). Efektivitas dan kandungan fraksi aktif metanol daun sirih hijau (Piper betle L.) sebagai antibakteri Salmonella typhi. BIOSFER: Jurnal Tadris Biologi, 10(1), 57–65.

Marzuki, I. (2020). Etnomedisin Suku Bugis: Kajian lontara pabbura dan aplikasi klinis. Celebes: Media Perkasa.

Muis, E. W., & Puji, H. B. (2020). Menjaga Sehat, Menjaga Adat Praktik Pengobatan Tradisional Tumpuroo Dan Pelestarian Adat Di Hukaea-Laeya. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 22(3), 271-287.

Mulyana, A., Lestari, D., Pratiwi, D., Rohmah, N. M., Tri, N., Agustina, N. N. A., & Hefty, S. (2024). Menumbuhkan gaya hidup sehat sejak dini melalui pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia, 2(2), 321-333.

Notoatmodjo, S. (2022). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nugraha, R. (2023). Hambatan sosiokultural dalam rujukan medis pasien infeksi akut di fasilitas kesehatan primer. Jurnal Administrasi Kesehatan, 11(1), 45–56.

Rahmawati. (2024). Pendekatan multi-level dalam mendiagnosis masalah kesehatan masyarakat perdesaan. Jurnal Edukasi Kesehatan, 12(2), 134–145.

Sari, N. P., & Wahyuni, T. (2022). Pola sterilisasi simplisia herbal pada pengobatan mandiri tingkat rumah tangga. Jurnal Farmasi Komunitas, 9(2), 102–111.

Sudirman, S. (2023). Determinasi budaya pappaseng terhadap keputusan perawatan kesehatan keluarga Bugis. Jurnal Kebudayaan dan Kesehatan, 7(3), 220–231.

Supardi, S., & Notosiswoyo, M. (2021). Pengaruh pemanfaatan obat tradisional terhadap keterlambatan penanganan medis penderita pneumonia. Jurnal Penelitian Kesehatan, 49(2), 143–152.

Suryani, L. (2022). Pluralisme sistem medis di Indonesia. Universitas Indonesia Press.

Syamsuri, S., Yusal, M. S., & Alang, H. (2023). Inventarisasi Tanaman Bernilai Ekonomi Sebagai Obat Tradisional Suku Bugis di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Wahana-Bio: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, 15(1), 23-32.

Utami, S. R. (2023). Karakteristik fitokimia dan bioaktivitas Piper betle L. dalam perspektif medis modern. Jurnal Fitofarmaka Indonesia, 10(1), 34–43.

Wang, Y., et al. (2023). The impact of health education on health behaviors: A systematic review. BMC Public Health, 23, 15691.

Wibowo, A. (2021). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers.

Winarni, S. (2022). Ketergantungan obat tradisional dan implikasinya terhadap penurunan angka utilisasi puskesmas. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 25(3), 167–176.

Yulianti, T. (2024). Persepsi sakit dan pola rujukan dualistik pada masyarakat agraris Sulawesi Selatan. Jurnal Sosiologi Perdesaan, 12(1), 58–69.

Zainuddin, M. (2023). Eksplorasi peran sanro dalam sistem perawatan kesehatan primer di Kabupaten Bone. Jurnal Etnofarmasi Indonesia, 5(2), 88–99.

Downloads

Published

2026-06-06