Massage efleruangge terhadap sensasi proteksi pada pasien diabetes millitus tipe II
DOI: https://doi.org/10.56922/nmi.v1i2.1254
Diabetes Millitus Massage Efleruangge Sensasi Proteksi
Abstract
Background: Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease that requires long-term treatment. The prevalence of diabetes mellitus increases annually, and if left untreated, it can lead to complications, including neuropathy. Neuropathy is damage to peripheral nerves that results in numbness and impaired sensory sensitivity in organs. This neuropathy can be minimized with pharmacological techniques, such as efleruangge massage, a hand-based therapy that manipulates muscles and other soft tissues to improve health.
Purpose: To determine foot sensitivity before and after efleruangge massage.
Method: A descriptive study was conducted with two respondents who received efleruangge massage for one week.
Result: There were changes before and after efleruangge massage. Respondent I had 2 points of sensitivity on the left extremity; 3 points on the right extremity; and 5 points on the right extremity. Respondent II had 2 points on the left extremity; 3 points on the right extremity; and 3 points on the left extremity; and 4 points on the right extremity.
Conclusion: There were changes in foot sensitivity before and after efleruangge massage. It is recommended that efleruangge massage be combined with a diabetes diet, regular exercise, and regular doctor consultations.
Keywords: Diabetes Millitus; Massage Efleruangge; Sensation Of Protection.
Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu penyakit kronik yang memerlukan waktu perawatan lama bahwa prevalensi diabetes militus setiap tahun nya semakin meningkat jika tidak di tangani akan menimbulkan komplikasi salah satunya neuropati, neuropati adalah kerusakan saraf-saraf perifer yang mengakibatkan baal/gangguan sensitifitas sensoris pada organ. Neuropati ini bisa di minimalisir dengan tekhnik farmokologi yaitu dengan memberikan massage efleruangge merupakan terapi dengan menggunakan tangan dimana otot dan jaringan lunak lain tubuh dimanupulasi untuk meningkatkan kesehatan.
Tujuan: Untuk mengetahui sensitifitas kaki sebelum dan sesudah di lakukan massage efleruangge.
Metode: yang digunakan deskriptif dengan dua responden yang di lakukan massage efleruangge selama 1 minggu.
Hasil: Ada perubahan antara sebelum dan sesudah di lakukan massage efleruangge, responden I exstermitas kiri sensitifitas 2 titik exstermitas kanan sensitifitas 3 titik setelahnya exstermitas kiri sensitifitas 3 titik yang ter deteksi exstermitas kanan sensitifitas 5 titik yang ter deteksi. pada responden II exstermitas kiri 2 titik exstermitas kanan sensitifitas 3 titik setelahnya exstermitas kiri sensitifitas 3 titik exstermitas kanan sensitifitas 4 titik yang ter deteksi.
Simpulan: ada perubahan sensitifitas pada kaki sebelum dan sesudah di lakukan massage efleruangge. Saran menerapkan massage efleruangge hendaknya di barengi dengan diit DM dan olahraga rutin serta konsultasi dokter secara rutin.
Kata kunci: Diabetes Millitus; Massage Efleruangge; Sensasi Proteksi.
Downloads
References
Adinugraha, T. S. (2015). Efek pijat terhadap perubahan tekanan sistolik Ankle Pasien diabetes mellitus tipe 2. Media Ilmu Kesehatan. Vol.4 No.2: 169–175.
Alimul, A. (2016). Diabetes Millitus dengan manfaat massage efleruangge Jurnal Medual. 1 (3) : 10-17.
American Diabetes Asection. ( 2020). Standar of Medical Care in Diabetes Diabetes Care, 33 (1), S11-S61.
Amirul, A. (2016). Efekttifitas pijat massage. Jurnal Kesehatan
Anani, S. (2012). Hubungan Antara Perilaku Pengendalian Diabetes dan Kadar Glukosa Darah Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus (Studi Kasus di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon). Diunduh pada tanggal 22 Febuari 2022. https://e- journal.lppmdianhusada.ac.id/index.php/ jk/article/view/46.
Black, B., & Hawks, H. (2014). Medical Surgical Nursing. Singapura : Elsevier (Singapura).
Chatchawan, U., Eungpinichpong, W., Plandee, P., & Yamauchi, J. (2015). Effects of thai foot massage on balance performance in diabetic patients with peripheral neuropathy: a randomized parallel-controlled trial. Medical Science Monitor Basic Research, 21.
Damayanti, S. (2016). Diabetes Mellitus & Penatalaksanaan Keperawatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Dros, D. (2009). Akurasi pengujian monofilament untuk mendiagnosis neuropati prifer. Jurnal akademi medis centrum
Fatmawati, V. (2017). The Decreasing Pain and Disability With Integrated Neuromuscular Inhibition Techniques (Init ) and Massage Effleuragge in Myofacial Trigger Point of Upper Trapezius Muscle. Sport and Fitness Journal, 1(1), 60–71.
Gordois, G. (2014). Assessing Phycosocial Distres Diabetes. Diabetes Care.
Hawkins, H. (2016). Masasse terapi. Dilihat pada 13 april 2022.
Hasil Riset Kesehatan dasar. (2018). Jakarta : Badan penelitian dan pengembangan Kesehatan kementtrian RI.
International Diabetes Federation. (2019). IDF Clinical Practice Recommendations for managing Type 2 Diabetes in Primary Care. International Diabetes Federation – 2019.
Kartika, R. W. (2017). Pengelolaan gangren kaki Diabetik. Continuing Medical Education, 44(1), 18–22.
Lewis, S. L. (2014). Medical Surgical Nursing Assessment and Management of Clinical Problem (9th ed). St.Louis, Missouri : Elsevier
Nursalam, N. (2013). Metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta.
Pandey, A., Tripathi, P., Pandey, R., Srivatava, R., & Goswami, S. (2011). Alternative therapies useful in the management of diabetes: A system.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 THE JOURNAL OF Nursing Management Issues

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.








