Determinan faktor sosial dan lingkungan terhadap balita stunting di Sumatera Selatan: SKI 2023

DOI: https://doi.org/10.33024/hjk.v19i1.792

Authors

  • Dwi Putri Agustina Program Studi Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya
  • Rini Mutahar Program Studi Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya

Lingkungan Sosial Stunting

Abstract

Background: Stunting is a health problem that has long-term impacts on children's quality of life. Social and environmental factors are suspected to play an important role in the occurrence of stunting.

Purpose: To analyze social and environmental factors on stunting in toddlers in South Sumatra.

Method: This research uses a cross-sectional study design with secondary data analysis from the 2023 Indonesian Health Survey. The sample consists of 10,120 children aged 0-59 months. The variables examined include gender, maternal education, place of residence, drinking water quality, and sanitation. Data analysis was conducted using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression.

Results: Factors significantly related to stunting incidence are child gender (p=0.000), mother's education (p=0.000), sanitation (p=0.000), and place of residence (p=0.000). Meanwhile, drinking water quality did not show a significant relationship with stunting incidence (p=0.070).

Conclusion: Efforts to prevent stunting need to focus on increasing maternal education, improving sanitation, and increasing access to health services in rural areas.

 

Keywords: Environment; Social; Stunting.

 

Pendahuluan: Stunting merupakan masalah kesehatan yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak, Faktor sosial dan lingkungan diduga memiliki peran penting dalam kejadian stunting.

Tujuan: Untuk menganalisis faktor sosial dan lingkungan terhadap balita stunting di Sumatera Selatan.

Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel terdiri dari 10,120 balita usia 0-59 bulan. Variabel yang dikaji meliputi jenis kelamin, pendidikan ibu, tempat tinggal, kualitas air minum, dan sanitasi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik.

Hasil: Faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting adalah jenis kelamin anak (p=0.000), pendidikan ibu (p=0.000), sanitasi (p=0.000), dan tempat tinggal (p=0.000). Sementara itu, kualitas air minum tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian stunting (p=0,.070).

Simpulan: Upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada peningkatan pendidikan ibu, perbaikan sanitasi, dan peningkatan akses layanan kesehatan di daerah perdesaan.

 

Kata Kunci: Lingkungan; Sosial; Stunting.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aditianti, A., Raswanti, I., Sudikno, S., Izwardy, D., & Irianto, S. E. (2020). Prevalensi Dan Faktor Risiko Stunting Pada Balita 24-59 Bulan Di Indonesia: Analisis Data Riset Kesehatan Dasar 2018 [Prevalence and Stunting Risk Factors in Children 24-59 Months in Indonesia: Analysis of Basic Health Research Data 2018]. Penelitian Gizi Dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research), 43(2), 51-64.

Aisah, S., Ngaisyah, R. D., & Rahmuniyati, M. E. (2019). Personal Hygiene And Environmental Sanitation Associated With Stunting Incidents In Wukirsari Village, Cangkringan District. In Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu, 1(2), pp. 49-55

Akombi, B. J., Agho, K. E., Hall, J. J., Wali, N., Renzaho, A. M., & Merom, D. (2017). Stunting, wasting and underweight in sub-Saharan Africa: a systematic review. International journal of environmental research and public health, 14(8), 863

Almatsier, S. (2015). Prinsip Dasar Ilmu Gizi Edi Si Ke-9. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Aprilia, D. (2022). Perbedaan Risiko Kejadian Stunting Berdasarkan Umur Dan Jenis Kelamin. Jurnal Kebidanan, 11(2), 25-31.

Basyariyah, Q., Diyanah, K. C., & Pawitra, A. S. (2022). Hubungan ketersediaan sanitasi dasar terhadap status gizi baduta di Desa Pelem, Bojonegoro. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 21(1), 18-26.

Batubara, F., Dwiriani, C. M., & Riyadi, H. (2024). Risk factors of undernutrition among under-two children in West Java (SSGI 2021). Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), 1(1), 49-58.

Ernawati, A. (2020). Gambaran penyebab balita stunting di desa lokus stunting Kabupaten Pati. Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan Dan IPTEK, 16(2), 77-94.

Fitri, L. (2018). Hubungan bblr dan asi ekslusif dengan kejadian stunting di puskesmas lima puluh pekanbaru. Jurnal Endurance: Kajian Ilmiah Problema Kesehatan, 3(1), 131-137

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Profil kesehatan Indonesia 2018. Diakses dari: https://www.kemkes.go.id/eng/profil-kesehatan-indonesia-2018

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia 2023. Badan Kebijakan Pengembangan Kesehatan. Diakses dari: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/

Kurniawati, D. P., Arini, S. Y., Awwalina, I., & Pramesti, N. A. (2021). Poor basic sanitation impact on diarrhea cases in toddlers. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 13(1), 41.

Kurniawati, N., & Yulianto, Y. (2022). Pengaruh jenis kelamin balita, usia balita, status keluarga dan pendapatan keluarga terhadap kejadian pendek (stunted) pada balita di Kota Mojokerto. Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan, 1(1), 76-92.

Nisa, L. S. (2018). Kebijakan penanggulangan stunting di Indonesia. Jurnal Kebijakan Pembangunan, 13(2), 173-179

Nugroho, A., & Putri, S. (2020). Perbedaan Determinan Balita Stunting di Pedesaan dan Perkotaan di Provinsi Lampung. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, 15(2), 84-94.

Nursyamsiyah, N., Yulida, S., & Bani, S. (2021). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan, 4(3), 611-622.

Rosha, B. C., Susilowati, A., Amaliah, N., & Permanasari, Y. (2020). Penyebab langsung dan tidak langsung stunting di lima kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor (Study kualitatif kohor tumbuh kembang anak tahun 2019). Buletin Penelitian Kesehatan, 48(3), 169-182.

Sari, S. D., & Zelharsandy, V. T. (2022). Hubungan Pendapatan Ekonomi Keluarga dan Tingkat Pendidikan Ibu terhadap Kejadian Stunting. Jurnal Kebidanan Harapan Ibu Pekalongan, 9(2), 108-113.

Sitorus, R. J., Merry Natalia, P., Purba, I. G., Mutahar, R., & Fujianti, P. (2019). The external factors associated with stunting occurrence among 12–59 months old toddler. people, 11(23), 23

Soraya, S., Ilham, I., & Hariyanto, H. (2022). Kajian Sanitasi Lingkungan Terhadap Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Tuan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Jurnal Pembangunan Berkelanjutan, 5(2), 98-114.

United Nations International Children’s Emergency Fund. (2019). Levels and trends in child malnutrition: key findings of the 2019 Edition of the Joint Child Malnutrition Estimates. Diakses dari: https://www.unicef.org/reports/joint-child-malnutrition-estimates-levels-and-trends-child-malnutrition-2019.

Vinci, A. S., Bachtiar, A., & Parahita, I. G. (2022). Efektivitas edukasi mengenai pencegahan stunting kepada kader: Systematic literature review. Jurnal Endurance, 7(1), 66-73.

World Health Organization. (2020). The UNICEF/WHO/WB Joint Child Malnutrition Estimates (JME) group released new data. Geneva. Diakses dari: https://www.who.int/news-room/detail/31-03-2020-unicef-who-wb-jme-group-new-data.

Downloads

Published

2025-03-26