Analisis indeks entomologi dan ovitrap yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue (DBD)
DOI: https://doi.org/10.33024/hjk.v19i1.734
Demam Berdarah Dengue (DBD) Indeks Entomologi Ovitrap Indeks
Abstract
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the Dengue virus which is transmitted from one person to another through the bite of the Aedes aegypti mosquito. Data from the Gunungkidul Regency Health Office in 2024, the working area of the Health Center with the highest DHF cases was in the Paliyan area with 385 cases and the highest cases were in Karangasem Village with 223 cases, while Mengger Hamlet was the hamlet with the highest cases from January-July with 55 DHF cases.
Purpose: To analyze the relationship between entomological and ovitrap indices with the incidence of dengue fever.
Method: A quantitative observational study with a case-control design to analyze entomological factors and ovitrap indices on the incidence of dengue fever in the Mangger area, Karangasem Village, Paliyan District, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta in January-August 2024. The sampling technique used random sampling with a total of 100 participants divided into 2 groups, namely the case group with sample criteria diagnosed with dengue fever and the control group with inclusion criteria of never having suffered from dengue fever.
Results: HI 20.2% of the case group had the criteria for a medium-risk area for dengue fever transmission, while the control area HI 9.5% had a medium risk. CI 10% of the case group had the criteria for a medium-risk area for dengue fever transmission, while CI 7.8% of the control group had a medium risk. BI 57.4% of the case group had the criteria for a high-risk area for dengue fever transmission, while BI 42.6% of the control group had a medium risk. ABJ 79.8% of the case group and ABJ 90.5% of the control area, both below the national ABJ target set at <95%. The ovitrap index in the case group was higher, namely 96.0% outside the home and 96.0% inside the home, while the control group was lower, namely 18.0% inside the home and 12.0% outside the home.
Conclusion: Analysis of entomological indicators, namely HI, CI, AJB in the case group area in the moderate category and BI in the high category, while in the control group area HI, CI, AJB in the low category and BI in the moderate category. There is a relationship between the installation of ovitrap and the incidence of DHF.
Suggestion: Further research can be conducted on other entomological factors. In addition, it is necessary to periodically monitor and evaluate the presence of larvae, increase health promotion about DHF prevention and community participation in implementing PSN efforts for prevention as early as possible.
Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF); Entomology Index; Ovitrap Index.
Pendahuluan: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan dari seorang kepada orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2024, wilayah kerja Puskesmas dengan kasus tertinggi DBD berada di daerah Paliyan sebanyak 385 kasus dan ditemukan kasus tertinggi di Kelurahan Karangasem sebanyak 223, sedangkan Padukuhan Mengger merupakan padukuhan dengan kasus tertinggi dari bulan januari-Juli sebanyak 55 kasus DBD.
Tujuan: Untuk menganalisis indeks entomologi dan ovitrap yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue.
Metode: Penelitian kuantitatif metode observasional menggunakan desain case-control untuk menganalisis factor entomologi dan ovitrap indeks terhadap kejadian DBD di Padukuhan Mangger Kelurahan Karangasem Kecamatan Paliyan Kabupaten Gunungkidul D.I Yogyakarta pada Januari-Agustus 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dengan jumlah sebanyak 100 partisipan yang terbagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok kasus dengan kriteria sampel terdiagnosa DBD dan kelompok kontrol dengan kriteria inklusi tidak pernah menderita DBD.
Hasil: HI 20.2% kelompok kasus memiliki kriteria daerah risiko sedang terhadap penularan DBD, sedangkan daerah kontrol HI 9.5% mempunyai risiko sedang. CI 10% kelompok kasus memiliki kriteria daerah risiko sedang terhadap penularan DBD, sedangkan CI 7.8% kelompok kontrol mempunyai risiko sedang. BI 57.4% kelompok kasus memiliki kriteria daerah risiko tinggi terhadap penularan DBD, sedangkan BI 42.6% kelompok kontrol mempunyai risiko sedang. ABJ 79.8% kelompok kasus dan ABJ 90.5% daerah control, keduanya dibawah target ABJ nasional yang ditetapkan yaitu <95%. Ovitrap indeks pada kelompok kasus lebih tinggi 96.0% di luar rumah dan 96.0% di dalam rumah, sedangkan kelompok kontrol lebih rendah 18.0% di dalam rumah dan 12.0% di luar rumah.
Simpulan: Analisis indikator entomologi yaitu HI, CI, AJB daerah kelompok kasus dalam kategori sedang dan BI kategori tinggi, sedangkan pada daerah kelompok kontrol HI, CI, AJB kategori rendah dan BI kategori sedang. Terdapat hubungan antara pemasangan ovitrap dengan kejadian DBD.
Saran: Penelitian lanjutan dapat dilakukan mengenai faktor entomologi lainnya. Selain itu, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi keberadaan larva secara berkala, meningkatkan promosi kesehatan mengenai pencegahan DBD dan peran masyarakat dalam melakukan upaya PSN untuk pencegahan sedini mungkin.
Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue (DBD); Indeks Entomologi; Ovitrap Indeks.
Downloads
References
Anggraini, S., & Retno, A. (2018). Hubungan keberadaan jentik dengan kejadian DBD di Kelurahan Kedurus Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 10(3), 252-258.
Ashari, I., Kurrohman, T., Aba, M., Surjati, E., & Efendi, E. (2023). Keberadaan jentik nyamuk aedes aegypti dengan kejadian demam berdarah dengue (DBD).
Diallo, D., & Diallo, M. (2020). Resting behavior of Aedes aegypti in southeastern Senegal. Parasites & Vectors, 13, 1-7.
Gifari, M. A., Rusmartini, T., & Astuti, R. D. I. (2017). Hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku gerakan 3M Plus dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. In Bandung Meeting on Global Medicine & Health (BaMGMH) (Vol. 1, No. 1, pp. 84-90).
Handayani, M. T., Raharjo, M., & Joko, T. (2023). Pengaruh Indeks Entomologi dan Sebaran Kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Sukoharjo. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 22(1), 46-54.
Hariyah, H. (2014). Analisis hubungan antara sosiodemografi dan survei telur nyamuk menggunakan ovitrap terhadap kasus kejadian demam berdarah dengue Di Kota Bandung Jawa Barat tahun 2014. Diakses dari: https://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Jurnal-Tesis-Hariyah.pdf
Hidayati, L., Hadi, U. K., & Soviana, S. (2017). Pemanfaatan ovitrap dalam pengukuran populasi Aedes sp. dan penentuan kondisi rumah. Jurnal Entomologi Indonesia, 14(3), 126-126.
Indriyani, Z., Rahardjo, M., & Setiani, O. (2017). Hubungan Faktor Lingkungan dengan Persebaran Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 3(3), 842-850.
Kementerian kesehatan Republik Indonesia. (2021). Profil Kesehatan 2021. Diakses dari: https://www.globalhep.org/sites/default/files/content/resource/files/2022-11/Profil-Kesehatan-2021.pdf
Maria, S. K. (2018). Wacana tradisi lisan wawi wotik di kabupaten Sikka. At-Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 2(2), 24-38.
Musfadillah, M. (2021). Hubungan Faktor Iklim Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Medan Tahun 2015-2019 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan).
Norzahira, R., Hidayatulfathi, O., Wong, H. M., Cheryl, A., Firdaus, R., Chew, H. S., & Lacroix, R. (2011). Ovitrap surveillance of the dengue vectors, Aedes (Stegomyia) aegypti (L.) and Aedes (Stegomyia) albopictus Skuse in selected areas in Bentong, Pahang, Malaysia.
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2016). Safety Assessment of Transgenic Organisms in the Environment, Volume 6. Diakses dari: https://www.oecd.org/en/publications/safety-assessment-of-transgenic-organisms-in-the-environment-volume-6_9789264253421-en.html
Perwitasari, D., Res, R. N., & Ariati, J. (2018). Indeks entomologi dan sebaran vektor demam berdarah dengue di Provinsi Maluku Utara tahun 2015. Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 28(4), 279-288.
Pramadani, A. T., Hadi, U. K., & Satrija, F. (2020). Habitat Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai Vektor Potensial Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Ranomeeto Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara. ASPIRATOR-Journal of Vector-Borne Disease Studies, 12(2), 123-136.
Rahayu, M., Baskoro, T., & Wahyudi, B. (2010). Studi kohort kejadian penyakit demam berdarah dengue. Berita Kedokteran Masyarakat, 26(4), 163-170.
Respati, T., Raksanagara, A., Djuhaeni, H., Sofyan, A., Faridah, L., Agustian, D., & Sukandar, H. (2017). Berbagai faktor yang memengaruhi kejadian demam berdarah dengue di Kota Bandung. Aspirator Journal of Vector-Borne Diseases, 9(2), 91-96.
Ridha, M. R., Indriyati, L., Tomia, A., & Juhairiyah, J. (2019). Pengaruh iklim terhadap kejadian demam berdarah dengue di Kota Ternate. Spirakel, 11(2), 53-62.
Sarirah, M., & Khoiriyah, N. (2024). Indeks Entomologi dan Hubungan Keberadaan Larva Aedes dengan Kejadian Demam Berdarah di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang. Health and Medical Journal, 6(1), 53-58.
Triana, D., Siregar, F. N., Utami, E. P. W. T., Suteky, T., & Wicaksono, S. (2021). Entomological parameters and characterization of insecticide resistance in dengue vector Aedes aegypti larvae from Bengkulu city, Indonesia. Malaysian Journal of Public Health Medicine, 21(1), 96-102.
Trisnawati, G. A., & Rahayuningsih, B. F. (2009). Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Desa Mojosongo Kabupaten Boyolali. Universitas Muhamadiyah Surakarta.
Wahono, T., Widjayanto, D., & Poerwanto, S. H. (2022). Karakteristik Habitat Larva Nyamuk dan Kepadatan Nyamuk Dewasa (Diptera: Culicidae) di Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali (Analisis Data Sekunder Rikhus Vektora 2017). ASPIRATOR-Journal of Vector-Borne Diseases Studies, 14(1).
Wikurendra, E. A. (2020). Pengukuran Ovitrap Index (OI) Sebagai Gambaran Kepadatan Nyamuk di RW 6 Kelurahan Tenggilis Mejoyo Kecamatan Tenggilis Mejoyo Kota Surabaya. Human Care Journal, 5(1), 320-327.
World Health Organization. (2020a). Dengue and severe dengue. Diakses dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
World Health Organization. (2020b). Dengue and Severe Dengue Fact Sheet. Diakses dari: https://www.who.int/indonesia/id/emergencies/dengue-and-severe-dengue-fact-sheet
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Holistik Jurnal Kesehatan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.