Pengembangan strategi manajemen penanggulangan kebakaran di puskesmas

DOI: https://doi.org/10.33024/hjk.v20i2.2390

Authors

  • Rizqi Ulla Amaliah Program Studi Kesehatan Dan Keselamatan Kerja, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibnu Sina
  • Asnil Fauzi Program Studi Kesehatan Dan Keselamatan Kerja, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibnu Sina
  • Naily Nur Suliana Program Studi Kesehatan Dan Keselamatan Kerja, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibnu Sina

Alat Pemadam Api Ringan (APAR) Manajemen Penanggulangan Kebakaran Puskesmas

Abstract

Background: Indonesia is a country with a high level of disaster potential. Disasters can occur due to natural, non-natural, or human-caused factors. Fires are categorized as a non-natural disaster based on their cause. One public facility that also needs to address this situation is the community health center. The community health center must be prepared for fire disasters because they accommodate patients, families, visitors, and the the community health center' own human resources.

Purpose: To develop a fire management strategy in the community health center.

Method: This sequential, mixed-methods exploratory study began with qualitative data collection and continued with quantitative data collection. The study was conducted in 20 Community Health Center in Batam City, Riau Islands, in 2025. The stages included analysis of fire prevention and control, communication and coordination aspects, development of a management model, and quantitative evaluation of the model.

Results: Based on observations, most fire prevention facilities and systems are still not optimally available. Regarding fire protection system guidelines, all the community health center lack clear guidelines. Similar conditions were also found for hydrants, sprinklers, water pumps, and emergency power sources, all of which were not available at all observed locations. Meanwhile, only a small number of community health centers have fire alarms, smoke detectors, and internal communication systems. However, all community health center have portable fire extinguishers and evacuation routes, demonstrating basic emergency response measures. However, without the support of other fire protection systems, these measures are insufficient to ensure overall safety.

Conclusion: Fire preparedness remains relatively low, constrained by incomplete and unintegrated fire protection systems. This highlights the need for cross-sector collaboration, resulting in comprehensive strengthening of facilities, systems, and cooperation to ensure safety.

 

Keywords; Community Health Center; Fire Management; Portable Fire Extinguishers.

 

Pendahuluan: Indonesia merupakan negara dengan tingkat potensi bencana yang tinggi. Bencana dapat terjadi karena faktor  alam, non alam maupun ulah manusia. Kebakaran berdasarkan penyebabnya dikategorikan dalam bencana non alam. Salah satu fasilitas umum yang juga perlu memperhatikan kondisi ini adalah puskesmas. Puskesmas harus siap dalam menghadapi bencana kebakaran karena di dalamnya terdapat pasien, keluarga pasien, pengunjung, dan SDM di puskesmas itu sendiri.

Tujuan: Untuk mengembangkan strategi manajemen penanggulangan kebakaran di puskesmas.

Metode: Penelitian mixed-method sequential exploratory, yaitu diawali dengan pengumpulan data kualitatif, dilanjutkan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kota Batam, Kepulauan Riau pada tahun 2025 terhadap 20 Puskesmas. Tahapannya meliputi analisis pencegahan dan pengendalian kebakaran serta aspek komunikasi dan koordinasi, pengembangan model manajemen, dan evaluasi model secara kuantitatif.

Hasil: Berdasarkan observasi, sebagian besar fasilitas dan sistem penanggulangan kebakaran masih belum tersedia secara optimal. Pada aspek pedoman sistem proteksi kebakaran, seluruh puskesmas belum memiliki pedoman yang jelas. Kondisi yang sama juga ditemukan pada hidran, sprinkler, pompa kebakaran, dan sumber daya listrik darurat, seluruhnya tidak tersedia di semua lokasi yang diamati. Sementara itu, alarm kebakaran, smoke detector, dan sistem komunikasi internal hanya sebagian kecil puskesmas yang telah memiliki. Di sisi lain, seluruh puskesmas sudah memiliki alat pemadam api ringan (APAR) dan sarana jalan keluar (evakuasi), menunjukkan adanya upaya dasar dalam penanganan keadaan darurat. Namun, tanpa didukung sistem proteksi kebakaran lainnya, upaya tersebut belum cukup untuk menjamin keselamatan secara menyeluruh.

Simpulan: Kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran masih tergolong rendah dengan keterbatasan pada sistem proteksi kebakaran yang belum lengkap dan belum terintegrasi. Hal ini menunjukkan, perlu adanya kolaborasi lintas sektor, sehingga adanya penguatan menyeluruh pada fasilitas, sistem, dan kerja sama untuk menjamin keselamatan.

 

Kata Kunci: Alat Pemadam Api Ringan (APAR); Manajemen Penanggulangan Kebakaran; Puskesmas.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Creswell, J. W. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE Publications, Inc.

Dynes, R. R. (1994). Community emergency planning: False assumptions and inappropriate analogies. International Journal of Mass Emergencies and Disasters, 12(2), 141–158.

Fadilah, S. Q. N., & Hidayat, A. N. (2024). Perspektif Kebijakan dan Praktik: Kesiapan Puskesmas di Indonesia terhadap Tanggap Darurat Kebakaran dalam Kajian Literatur. Radinka Journal of Health Science, 2(1), 162–168.

Firdaus, H. S., Valdika, R. R., & Nugraha, A. L. (2019). Analisis ancaman multi bencana di Kabupaten Kendal berbasis fuzzy analytic hierarchy process. Jurnal Geodesi UNDIP, 8(1), 1–10.

Kapucu, N. (2006a). Interagency communication networks during emergencies: Boundary spanners in multiagency coordination. The American Review of Public Administration, 36(2), 207–225.

Kapucu, N. (2006b). Public–nonprofit partnerships for collective action in dynamic contexts of emergencies. Public Administration, 84(1), 205–220.

Kapucu, N., Augustin, M. E., & Garayev, V. (2009). Interstate partnerships in emergency management: Emergency Management Assistance Compact in response to catastrophic disasters. Public Administration Review, 69(2), 297–313.

Keast, R., Brown, K., & Mandell, M. (2007). Getting the right mix: Unpacking integration meanings and strategies. International Public Management Journal, 10(1), 9–33.

Keast, R. L., & Mandell, M. P. (2009). The collaborative push: Moving beyond rhetoric and gaining evidence. Journal of Management and Governance, 18(1),

Kettl, D. F. (2003). Contingent coordination: Practical and theoretical puzzles for homeland security. The American Review of Public Administration, 33(3), 253–277.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2003). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/165/2003 tentang Akreditasi Puskesmas. Diakses dari: https://diskes.badungkab.go.id/storage/diskes/file/KMK%20No.%20HK.01.07-MENKES-165-2023%20ttg%20Standar%20Akreditasi%20Puskesmas-signed%20(1).pdf

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2018 tentang keselamatan dan kesehatan kerja di fasilitas pelayanan kesehatan. Diakses dari: https://peraturan.go.id/id/permenkes-no-52-tahun-2018

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2019 tentang krisis kesehatan. Diakses dari: https://peraturan.bpk.go.id/Details/138674/permenkes-no-75-tahun-2019

Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia. (2008). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 26/PRT/M/2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan. Diakses dari: https://peraturan.bpk.go.id/Details/104475/permen-pupr-no-26prtm2008-tahun-2008

Nowell, B., & Steelman, T. (2014). Communication under fire: The role of embeddedness in the emergence and efficacy of disaster response communication networks. Journal of Public Administration Research and Theory, 25(3), 929-952.

Ramli, S., & Djajaningrat, H. (2010). Petunjuk praktis manajemen kebakaran (fire management). Jakarta: Dian Rakyat.

Rijanto, B. (2010). Pedoman praktis keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan (K3L). Jakarta: Mitra Wacana Media.

Salari, S., & Karimi, A. (2025). Introducing an integrated approach for fire safety assessment in healthcare facilities by interval valued neutrosophic-AHP and Fuzzy Inference System. Heliyon, 11(2), e41660.

Simo, G., & Bies, A. L. (2007). The role of nonprofits in disaster response: An expanded model of cross-sector collaboration. Public Administration Review, 67(Suppl. 1), 125–142.

World Health Organization. (2012). Health Indicators of Disaster Risk Management. Diakses dari: https://www.who.int/docs/default-source/documents/health-indicators-of-disaster-risk-management.pdf

Downloads

Published

2026-05-03