Deteksi dini kesehatan mental emosional remaja sebagai upaya mewujudkan generasi emas yang sehat jiwa

DOI: https://doi.org/10.33024/hjk.v19i11.1714

Authors

  • Hariet Rinancy Prodi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
  • Rosmi Eni Prodi S1 Keperawatan, Fakultas Psikologi, Universitas Negri Padang
  • Rahmi Kurnia Gustin Universitas Prima Nusantara Bukittinggi
  • Desti Nataria Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Deteksi Dini Emosional Kesehatan Mental Remaja

Abstract

Background: Adolescence is a turbulent period of transition, both physically, psychologically, and socially. Amid these changes, it is not uncommon for adolescents to face various challenges that can impact their mental and emotional health. Mental health disorders, such as depression, anxiety, or eating disorders, often begin in adolescence, but unfortunately, they often go undetected or are ignored. Early detection is crucial because prompt intervention can prevent these conditions from worsening. Adolescents experiencing mental health problems may exhibit subtle symptoms, such as behavioral changes, decreased academic performance, social withdrawal, or changes in sleep and eating patterns. Ignoring these signs can have long-term impacts on adolescents' lives, including problems with interpersonal relationships, difficulties in education and careers, and an increased risk of risky behaviors such as risky sexual behavior, substance abuse, or even suicide.

Purpose: To identify emotional mental health disorders in adolescents as a first step in realizing a mentally healthy golden generation.

Method: This descriptive quantitative study describes emotional mental health problems in adolescents. The study was conducted at MAN 1 Padang Pariaman Regency. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 251 respondents. Data collection used the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ).

Results: Most of the 139 adolescents (55.4%) showed abnormal scores on emotional symptoms, most of the 154 adolescents (61.3%) showed borderline scores on behavior, less than half of the adolescents (37%) had normal scores for hyperactivity, most adolescents (66.9%) showed abnormal scores for social problems, and the majority of adolescents (94%) showed normal scores for prosocial behavior.

Conclusion: The majority of adolescents in this study experienced emotional mental health problems, so appropriate interventions are needed for adolescents.

Suggestion: Schools, when implementing any intervention program, should use these prosocial behaviors as a foundation of strengths to encourage positive changes in other aspects of difficulties. For example, teaching helpful behaviors can improve problematic social relationships.

 

Keywords: Adolescents; Early Detection; Emotional; Mental Health.

 

Pendahuluan: Masa remaja adalah periode transisi yang penuh gejolak, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Di tengah perubahan ini, tidak jarang remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional mereka. Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan, sering kali dimulai pada usia remaja, namun sayangnya, sering kali tidak terdeteksi atau diabaikan. Deteksi dini menjadi sangat krusial karena intervensi yang cepat dapat mencegah kondisi ini menjadi lebih parah. Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin menunjukkan gejala yang tidak selalu jelas, seperti perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau perubahan pola tidur dan makan. Mengabaikan tanda-tanda ini bisa berdampak jangka panjang pada kehidupan remaja, termasuk masalah dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam pendidikan dan karier, hingga peningkatan risiko perilaku berisiko seperti perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat atau bahkan bunuh diri.

Tujuan: Untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan mental emosional pada remaja sebagai langkah awal dalam mewujudkan genarasi emas yang sehat jiwa.

Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggambarkan masalah kesehatan mental emosional remaja. Penelitian dilakukan di MAN 1 Kabupaten Padang Pariaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 251 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ).

Hasil: Sebagian besar 139 remaja (55.4%) menunjukKan skor abnormal pada gejala emosi, sebagian besar 154 remaja (61.3%) menunjuKkan skor borderline pada perilaku, kurang dari setengah remaja (37%) berada pada skor normal untuk hiperaktivitas, sebagian besar remaja (66.9%) menunjukkan skor abnormal untuk masalah teman sebaya dan mayoritas ramaja (94%) menunjukkan skor normal untuk prososial.

Simpulan: Mayoritas remaja pada penelitian ini mengalami masalah kesehatan mental emosinal, sehingga perlu diberikan intervensi yang tepat pada remaja.

Saran: Sekolah dalam memberikan setiap program intervensi yang diluncurkan harus menggunakan perilaku prososial ini sebagai fondasi kekuatan untuk mendorong perubahan positif pada aspek kesulitan lainnya. Misalnya, mengajarkan perilaku tolong-menolong dapat meningkatkan hubungan teman sebaya yang bermasalah.

 

Kata Kunci: Deteksi Dini; Emosional; Kesehatan Mental; Remaja.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abas, J., Boekoesoe, L., & Tarigan, S. F. N. (2023). Analisis determinan gangguan kesehatan mental emosional remaja di SMA Negeri 1 Limboto. Health Information: Jurnal Penelitian, e1302-e1302.

Astutik, W., & Dewi, N. L. M. A. (2022). Mental Health Problems Among Adolescent Students. Jurnal Keperawatan Indonesia, 25(2), 85–94. https://doi.org/10.7454/jki.v25i2.848

de Zambotti, M., Goldstone, A., Colrain, I. M., & Baker, F. C. (2018). Insomnia disorder in adolescence: diagnosis, impact, and treatment. Sleep medicine reviews, 39, 12-24.

Fusar-Poli, P., de Pablo, G. S., De Micheli, A., Nieman, D. H., Correll, C. U., Kessing, L. V., & van Amelsvoort, T. (2020). What is good mental health? A scoping review. European neuropsychopharmacology, 31, 33-46.

Guerrini Usubini, A., Bottacchi, M., Morelli, G., Caroli, D., Marazzi, N., Castelnuovo, G., & Sartorio, A. (2024). The psychosocial functioning in adolescents with severe obesity evaluated throughout the strengths and difficulties questionnaire (SDQ): A preliminary report. Frontiers in Psychology, 14, 1205113.

Kamalah, A. D., & Nafiah, H. (2023). Gejala mental emosional dan upaya dalam meningkatkan kesehatan jiwa remaja. Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat, 1(2), 68-72.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses dari: https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/3881/1/CETAK LAPORAN RISKESDAS DKI 2018.pdf

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Petunjuk Teknis Pencegahan dan Pengendalian Gangguan Mental Emosional. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses dari: https://repository.kemkes.go.id/book/1258

Mawaddah, N., & Prastya, A. (2023). Upaya peningkatan kesehatan mental remaja melalui stimulasi perkembangan psikososial pada remaja. DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(2), 115-125.

Monika, I., & Alfiyanah, L. (2024). Peran Konselor dalam Mewujudkan Kesehatan Mental Menuju Indonesia Emas 2045. In Proceeding of Annual International Conference on Islamic Education and Language (AICIEL) (pp. 553-570).

Pali, K. A. K. (2020). Metodelogi penelitian. Repository. Radenfatah. Ac. IdVW SujarweniYogyakarta: Pustaka Baru Perss, 2014• repository. Radenfatah. Ac. Id.

Putri, R., Wayuni, S., Kala, P. R., Hidayattullah, M., & Rizki, K. (2025). Deteksi Dini Kesehatan Mental Emosional Siswa Sekolah Menengah Atas Sebagai Langkah Awal Menciptakan Generasi Unggul. Jurnal Ilmiah Kedokteran Dan Kesehatan, 4.

Ramadhanti, A., & Kurniawan, A. (2023). Penerapan Metode Forward Chaining Dalam Proses Rancang Bangun Sistem Pendeteksi Dini Kesehatan Mental Emosional Anak Usia 4-17 Tahun Menggunakan Sistem Strength and Difficulties Questuionnaire. Jurnal Manajemen Informatika, 15(02).

Setiawati, Y., & Yuniar, S. (2017). Pedoman Deteksi Dini Gangguan Emosional Untuk Petugas Kesehatan di Puskesmas.

Su, Y., Chen, Z., Teng, Z., Liu, M., Yang, Y., Chen, J., & Huang, J. (2024). The relationship between childhood trauma and mental health status among Chinese vocational high school adolescents: the mediating effect of poor self-control and internet addiction. BMC Public Health, 24(1), 2747.

Suhita, B. M., & Widyastuti, R. (2023). The Ability of Early Detection of Mental Health in Adolescents with the Provision of Health Education Using Audio Visual Methods at SMK Pawyatan Daha 1 Kediri. Journal Of Nursing Practice, 7(1), 86-92.

Suswati, W. S. E., Yuhbaba, Z. N., & Budiman, M. E. (2023). Kesehatan mental pada remaja di lingkungan sekolah menengah atas wilayah urban dan rural kabupaten jember. Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 11(3), 537-544.

Vitoasmara, K., Hidayah, F. V., Purnamasari, N. I., & Aprillia, R. Y. (2024). Gangguan Mental (Mental Disorders). Student Research Journal, 2(3), 57-68.

Vugteveen, J., de Bildt, A., & Timmerman, M. E. (2022). Normative data for the self-reported and parent-reported Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) for ages 12–17. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 16(1), 5.

World Health Organizaiton. (2025). Mental health of adolescents. Diakses dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health

Downloads

Published

2026-01-22