Analisis spasial terhadap kejadian demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia: A systematic review
DOI: https://doi.org/10.33024/hjk.v19i5.1180
Analisis Spasial Demam Berdarah Dengue Kelembaban Udara
Abstract
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a major public health problem in Indonesia, with significant regional variations in incidence. Despite the government's implementation of various control programs, DHF cases continue to exhibit specific spatial clustering patterns influenced by environmental and demographic factors.
Purpose: To analyze the spatial distribution of dengue fever cases in Indonesia and identify environmental and climatic factors associated with dengue fever incidence through a spatial analysis approach.
Method: This study followed the PRISMA guidelines and included articles published between January 2020 and December 2024. A literature search was conducted through the PubMed and SINTA databases using the keywords "spatial analysis," "dengue hemorrhagic fever," "DHF," and "Indonesia." Articles meeting the inclusion criteria were analyzed narratively and grouped based on similar findings.
Results: Six articles met the inclusion criteria. Most studies used spatial analysis tools such as ArcGIS, Moran's I, and LISA to map clustering and autocorrelation patterns of dengue cases. The results showed that dengue cases tended to be concentrated in areas with high population density. Environmental factors such as temperature (25°C–30°C) and humidity were strongly associated with mosquito behavior and dengue transmission risk, while rainfall showed a weaker relationship. One study demonstrated a dispersed pattern of cases.
Conclusion: Spatial analysis methods have proven effective in identifying high-risk dengue clusters and understanding the influence of environmental variables on transmission dynamics. The results of this review emphasize the importance of geographically focused public health interventions and the need for continuous monitoring and mapping of dengue cases in endemic areas.
Keywords: Air Humidity; Dengue Hemorrhagic Fever; Spatial Analysis.
Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia dengan variasi kejadian yang signifikan antar wilayah. Meskipun pemerintah telah menjalankan berbagai program pengendalian, kasus DBD tetap menunjukkan pola pengelompokan spasial tertentu yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan demografis.
Tujuan: Untuk menganalisis pola distribusi spasial kasus demam berdarah di Indonesia dan mengidentifikasi faktor lingkungan dan iklim yang terkait dengan kejadian demam berdarah melalui pendekatan analisis spasial.
Metode: Penelitian tinjauan pustaka menggunakan pedoman PRISMA dan mencakup artikel yang diterbitkan pada periode Januari 2020 hingga Desember 2024. Pencarian literatur dilakukan melalui database PubMed dan SINTA dengan kata kunci "analisis spasial", "demam berdarah dengue", "DBD" dan “Indonesia”. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara naratif dan dikelompokkan berdasarkan kesamaan hasil.
Hasil: 6 artikel memenuhi kriteria inklusi dan sebagian besar penelitian menggunakan alat analisis spasial, seperti ArcGIS, Moran's I, dan LISA untuk memetakan pola pengelompokan dan autokorelasi kasus demam berdarah. Kasus demam berdarah cenderung terkonsentrasi di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi. Faktor lingkungan seperti suhu (25–30°C) dan kelembaban udara memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku nyamuk dan risiko penularan demam berdarah, sedangkan curah hujan menunjukkan hubungan yang lemah.
Simpulan: Metode analisis spasial telah terbukti efektif dalam mengidentifikasi klaster demam berdarah berisiko tinggi dan memahami pengaruh variabel lingkungan terhadap dinamika penularan. Hasil tinjauan ini menekankan pentingnya intervensi kesehatan masyarakat yang berfokus secara geografis dan perlunya pemantauan dan pemetaan kasus demam berdarah secara berkelanjutan di daerah endemik.
Kata Kunci: Analisis Spasial; Demam Berdarah Dengue; Kelembaban Udara.
Downloads
References
Aisyah, N., Mutthalib, N. U., & Amelia, A. R. (2021). Studi Epidemiologi dengan Pendekatan Analisis Spasial Terhadap Kejadian ISPA pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Antang Perumnas. Window of Public Health Journal, 2(2), 230-240.
Arieskha, F. T. A., Rahardjo, M., & Joko, T. (2019). Variabilitas Cuaca Dan Asosisasinya dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kabupaten Tegal. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 11(4), 339-347.
Astuti, R., & Nugroho, S. (2020). Analisis spasial penyebaran demam berdarah dengue di wilayah Jawa Tengah menggunakan GIS. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 15(2), 85-93.
Fauziyah, N., & Putra, M. H. (2019). Hubungan faktor lingkungan dengan kejadian demam berdarah dengue di Jakarta Selatan. Buletin Penelitian Kesehatan, 47(3), 160-169. https://doi.org/10.22435/bpk.v47i3.2019
Hartono, H., & Probandari, A. N. (2020). Penggunaan sistem informasi geografis untuk pola spasial tuberkulosis dengan dan tanpa diabetes mellitus di kulon progo. Journal of Information Systems for Public Health, 2(1), 1-9.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Informasi Singkat DBD. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses dari: https://ayosehat.kemkes.go.id/topik/demam-berdarah-dengue
Kurniawan, A., & Wulandari, D. (2018). Pemetaan risiko demam berdarah dengue di Indonesia menggunakan metode kriging. Jurnal Geografi dan Lingkungan, 6(1), 45-55.
Lestari, D., & Sari, Y. P. (2021). Analisis faktor sosial ekonomi dan lingkungan dalam kejadian DBD di daerah perkotaan. Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat, 9(1), 23-30.
Maretha, L., Razak, R., & Faisya, A. F. (2022). The Relation between Rainfall and Larval Density of Dengue Hemorrhagic Fever with Spatial Modeling. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 18(1), 10-17.
Naim, S., Hastono, S. P., Rahayu, S., & Wangi, M. P. (2022). A spatial analysis of dengue hemorrhagic fever (DHF), hygiene, and latrines in Depok city in 2020.
Nugraha, E., & Harjono, H. (2017). Pengaruh curah hujan dan suhu terhadap kejadian DBD di Provinsi Jawa Barat. Jurnal Meteorologi dan Klimatologi, 12(2), 102-110.
Pramono, H., & Rahmawati, A. (2020). Studi spasial demam berdarah dengue menggunakan model regresi logistik di Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 16(4), 200-209.
Prasetyo, D., & Handayani, R. (2022). Analisis spasial clustering demam berdarah dengue di Kota Bandung menggunakan metode hotspot analysis. Jurnal Kesehatan dan Lingkungan, 8(2), 115-124.
Saputra, Y. D., & Yudhastuti, R. (2022). Spatial Analysis of Environmental Factors Related to Dengue Hemorrhagic Fever Cases in Banyuwangi Regency, 2020-2022. Journal of Environmental Health, 15(3).
Sari, M. P., & Wijayanti, D. (2019). Analisis spasial dan temporal kejadian DBD di Indonesia periode 2010-2018. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 11(3), 121-130.
Setiawan, B., & Yuliani, S. (2016). Faktor risiko demam berdarah dengue dan implikasi pengendalian di daerah endemis. Jurnal Kesehatan Komunitas, 4(2), 45-54.
Sugianto, J. A., & Cecilia, C. (2021). Dengue Incidence in Relation to Environmental Factors in Sampang Regency: Analysis of Five Years Data. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 17(1), 17-23.
Syamsir, P. D. (2020). Autokorelasi kasus Demam Berdarah Dengue berbasis spasial di wilayah Air Putih, Kota Samarinda. J Kesehat Lingkung, 12(2).
Wibowo, S., & Lestari, R. (2018). Penggunaan sistem informasi geografis dalam pemantauan kejadian demam berdarah dengue di Bali. Jurnal Teknologi Informasi Kesehatan, 7(1), 70-78.
Yulianti, F., & Susanto, T. (2021). Pengaruh urbanisasi terhadap penyebaran demam berdarah dengue di Pulau Jawa. Jurnal Penelitian Kesehatan, 10(2), 88-97.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Holistik Jurnal Kesehatan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.